Maju kena mundur kena : Covid-19, perlambatan ekonomi dan apa solusinya?
Berat sekali tugas pemerintah saat ini, menyelamatkan rakyat dari covid-19 sekaligus mencari cara menghindari krisis ekonomi akibat covid-19. Covid-19 yang sudah menyebabkan kita libur sekolah dan kerja selama 1 bulan masih belum juga menunjukan tanda tanda akan berhenti.
Kenapa?
Karena saat ini belum ada vaksin untuk virus ini. Jadi cara terbaik untuk menghindari jumlah korban yang terus bertambah adalah menghindari ketularan virus ini sebisa mungkin.
Mengambil contoh negara dengan jumlah korban yang besar seperti China, Italia, Spanyol, USA, tentu pemerintah akan memilih opsi lockdown atau psbb untuk mengurangi jumlah korban virus.
Namun, krisis ekonomi juga mengintai. Dengan libur 1 bulan saja, sudah banyak sektor ekonomi yang terdampak. Pabrik dan toko toko mulai mengurangi pengeluaran sebisa mungkin karena jumlah pemasukan berkurang derastis sementara biaya produksi dan gaji karyawan harus tetap berjalan. Kalau terus berlanjut, pabrik dan toko bisa bangkrut, karena juga harus bayar cicilan utang ke bank. Untuk itulah ada opsi, gaji dikurangi setengah, merumahkan karyawan dibanding PHK.
---------------
Terus, apa langkah terbaik yang bisa dilakukan pemerintah dan kita?
Pertama adalah tetap tenang, tapi cepat bertindak. Memang covid-19 death rate nya secara global cuma 4 %. Tapi ketakutan yang masyarakat terima adalah 100% takut mati. Siapapun tidak ingin tertular dan mati.
Belajar dari presiden Amerika, Donald Trump yang beberapa minggu yang lalu terlalu optimis dan ingin warganya untuk hidup biasa tanpa takut tertular covid-19 bisa sangat berbahaya. Memang niatnya bagus supaya roda ekonomi negara tidak tersendat. Tapi lihat sekarang Senin 13 April 2020, di Amerika sudah ada 20.000 orang yang meninggal dunia.
Sebagai pemerintah, kita tidak bisa menyembunyikan fakta jumlah orang yang tertular dan korban yang meninggal dunia. Ada banyak sumber informasi yang mudah diakses publik sekarang. Apabila kita memberikan informasi yang tidak sesuai dengan data yang masyarakat pegang, kepercayaan pada pemerintah bisa berkurang dan akan memperburuk langkah pemerintah kedepannya. Bisa bisa di masa mendatang, himbauan pemerintah tidak akan dihiraukan lagi dan akan menimbulkan dampak korban covid-19 yang lebih banyak dan dampak ekonomi yang lebih besar.
Oleh karena itu, Untuk mengurangi ketakutan ini pemerintah harus bisa mengurangi angka penderita sebisa mungkin. Membangun harapan dan optimisme masyarakat melalui bukti nyata yaitu angka. Dan angka hanya bisa kita kurangi kalau kita mensuport dunia kesehatan secara total. Tidak hanya berfokus pada data jumlah korban lalu publikasi, tapi langkah langkah radikal harus diambil. Penelitian harus segera dilakukan baik untuk mencari vaksin ataupun obat sementara.
Pemerintah juga bisa mendata kesehatan warga secara harian, seperti yang dilakukan China. China mewajibkan warganya untuk mendownload aplikasi hp yang berfungsi untuk mengecek tingkat kesehatan warganya setiap hari (sumber dari tulisan pak Dahlan Iskan di disway.id).
Tentu ini memerlukan waktu dalam pembuatan aplikasi dan sosialisasinya, tapi kalau berhasil, pemerintah jadi punya big data tentang seluruh kesehatan warganya. Siapa yang sekarang suhu badanya 38, batuk batuk dan sakit pernafasan tidak perlu lagi harus periksa 1 per 1. Jadi penanganan pasien yang kemungkinan mengidap covid-19 bisa lebih tepat sasaran dan menghemat waktu. Juga menimbulkan kejelasan. Dengan kejelasan itulah harapan dan optimisme masyarakat akan kembali yang kemudian akan menggerakan kembali roda ekonomi.
---------
Semoga Indonesia diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk melalui wabah covid-19 ini dengan korban seminimal mungkin.
Komentar
Posting Komentar