Persiapan matang dan harga sebuah kepercayaan
Aku dan bapak sebenarnya sudah
tiba di pelabuhan tanjung perak yang besar itu, walaupun agak terlambat. Sesaat
setelah turun dari mobil travel yang mengantar, kami bergegas untuk berjalan
kaki ke pintu masuk pelabuhan. Terlihat kerumunan orang yang sedang rame di
dekat pintu masuk pelabuhan, tepanya di tempat pengecekan tiket. Aku dan bapak
sebenarnya tidak perlu membeli tiket lagi karena jauh jauh hari kami sudah
memesan tiket kapal untuk dua orang pada seorang kenalan yang juga langganan
kami. Dia orang Madura. Memang kebaanyakan orang yang bekerja disekitar
pelabuhan tanjung perak adalah orang Madura. Aku lupa namanya. Keluarga kami
sudah berkali kali pesan tiket padanya jika ingin bepergian ke Kalimantan
menggunakan kapal. Bapak menemuinya dengan perasaan tenang bahwa tiket sudah
disiapkan olehnya.
Ternyata kenyataan diluar yang
kami perkirakan. Saat itu adalah saat arus balik lebaran. Orang orang jawa yang
bekerja di Kalimantan banyak yang pulang kembali ke Kalimantan untuk kerja.
Tiket kapal telah terjual habis. Jadi tiket tiket yang tersisa sudah dibeli
oleh calo calo dipelabuhan lalu dijual kembali dngan harga yang sangat mahal.
Bapak mencoba bertanya pada orang langganannya itu. Dan ternyata tiketnya sudah
habis. Ada banyak orang yang tadi telah menawarnya dengan harga lebih tinggi
dari biasanya. Harga normal tiket kapal ke batulicin saat itu adalah 150.000.
tapi saat itu bisa melonjak sampai 600.000. bapak cukup kesal dan kecewa.
Beliau sudah mempersiapkan perjalanannya jauh jauh hari. Semua bekal telah
dibawa. Bawaan kami nggak sedikit. Ada 2 kardus cukup berat yang entah isinya
apa. Ada 2 tas koper besar juga. Semuanya berat berat. Entah diisi apa saja
sama mamak dan bapak. Tentu saja kalau harus menunggu lagi kapal berikutnya
dipelabuhan akan sangat merepotkan dan membosankan. Belum lagi kami tidak tau
harus menunggu kapan ada jadwal kapal yang akan berangkat ke batulicin lagi.
Jadilah, Bapak mencoba kembali berbicara pada calo itu. Akhirnya didapatkanlah
sebuah kesepakaan harga. Calo itu ternyata masih punya tiket. Tapi dia tidak
mau melepaskannya dengan harga murah. Ia mengharainya 400.000 rupiah. Bapak
tidak punya pilihan lain. Tidak ada gunanya kecewa dan menyelesaikan urusan
dengan kekerasaan. Akhirnya bapak membeli tiket kapal itu dan voila, Aku akhirnya
bias naik kapal dan bersiap berlayar menuju batulicin. Cukup lega. Karena tadi sangat khawatir kalau kalau kami
ditinggal kapal berlayar karena proses negosiasi yang alot dengan calo tadi.
Pelajaran dari cerita ini adalah
jangan pernah mempercayakan sesuatu pada orang lain yang tidak bisa
dipertanggung jawabkan. Kalau bisa lakukan sendiri, lakukanlah sendiri.
Pesanlah tiket jauh jauh hari di agen resmi yang memiliki bukti yang sah.
Jangan hanya mengandalkan janji dengan orang yang dikenal atau teman karena
selama tidak ada bukti perjanjian fisik, semuanya hanyalah omongan kosong. Harus
ada perjanjian hitam diatas putih yang bisa dipertanggung jawabkan.
Jangan pernah memanfaatkan orang
lain hanya karena kita ingin mendapatkan uang sedikit lebih banyak. Saat kita
mendapatkan kepercayaan orang lain, laksanakanlah tugas dengan penuh tanggung
jawab, karena saat orang lain puas dengan apa yang kkita lakukan, mereka akan
kembali lagi menggunankan jasa kita. Dan saat orang lain kecewa dengan apa yang
kita kerjakan, sudah pasti mereka tidak akan menggunakan jasa kita lagi. Dengan
begitu kita sendiri yang merugi. Melakukan kecurangan pada pelanggan hanya akan
membuat bisnis yang kita lakukan tidak berkembang dan mandek. Apalagi kalau
pelanggan punya kekuatan untuk menyebarkan kesan negatifnya dengan mudah
dizaman yang semuanya gampang menjadi viral, maka hilangnlah potensi
pendaapatan kita. Jangan pernah kecewakan oranglain dalam konddisi apapun,
walaupun kita akan dapat bonus satu milyar, menghilangkan kepuasan pelanggan
akan membuat kita merugi 10 milyar.
Komentar
Posting Komentar